BREAKING NEWS

Lowongan Kerja

Beasiswa

Football

Info Kampus

Tips and Trik

Techno

Kesehatan

This is default featured slide 1 title

Easy to customize it, from your blogger dashboard, not needed to know the codes etc.

This is default featured slide 2 title

Easy to customize it, from your blogger dashboard, not needed to know the codes etc.

This is default featured slide 3 title

Easy to customize it, from your blogger dashboard, not needed to know the codes etc.

This is default featured slide 4 title

Easy to customize it, from your blogger dashboard, not needed to know the codes etc.

This is default featured slide 5 title

Easy to customize it, from your blogger dashboard, not needed to know the codes etc.

Monday, October 27, 2014

Yuk, Mari Wisata Cambuk ke Aceh

Wisata cambuk? Ya, mata anda tidak salah baca.  Kami di Aceh sedang menggalakkan hukum cambuk. Itu tidak ada di tempat lain di Indonesia. Hanya ada di tempat kami. Ini Aceh, kawan. Negeri syariat. Serambi Mekah. Negeri seribu masjid. Karena itu, tidak salah kan jika kami menjadikannya sebagai salah satu daya tarik wisata? Toh, kami juga sedang giat-giatnya menggalakkan pariwisata islami kok. 

Jika even-even wisata lain yang kami gelar tidak menarik perhatian kalian, kami jamin hukum cambuk ini akan menjadi diferensiasi, faktor pembeda yang tidak kalian ditemukan di tempat lain. Setelah 19 September lalu pemerintah kami di Banda Aceh mencambuk delapan penjudi, hari ini, Jumat, 3 Oktober 2014, akan ada empat orang penjudi lagi yang akan kami cambuk. 

Jangan khawatir tidak kebagian tempat untuk menonton, pemerintah kami sudah menyiapkan tempat yang lebih luas dari sebelumnya, yaitu di Masjid Al Makmur Lampriet, Banda Aceh. Seperti kata Kepala Kejaksaaan Negeri Banda Aceh, Husni Thamrin, masjid itu sengaja dipilih agar bisa menampung lebih banyak penonton. Jadi, sekali lagi, jangan khawatir tidak kebagian tempat menonton. (Baca: Lagi, Banda Aceh Akan Cambuk Empat Penjudi) 

Karena itu, wahai kalian para investor dan turis asing, jangan lewatkan kesempatan langka ini. Kami tidak main-main lho soal hukum cambuk ini. Kami sangat serius menerapkan hukum Islam, hukum yang datangnya dari Allah SWT. Tidak percaya? Lihat saja, anggota dewan kami bahkan rela bergadang hingga menjelang subuh agar qanun jinayat yang mengatur tentang hukum cambuk bisa segera dibereskan untuk disahkan pada 27 September lalu. Dalam qanun ini, hukuman untuk mereka yang melanggar, sudah lebih diperberat dari sebelumnya. 

Mau tau seperti apa hukumannya? Nih, klik  di tautan ini: Infografis: Detail Ancaman Hukuman Cambuk dalam Qanun Jinayat   Kami juga memaksa mereka yang non muslim untuk ikut aturan kami. Ini daerah dengan penduduk Islam terbanyak, bro. Setidaknya, begitulah yang tertulis di KTP.  Mereka yang non muslim tidak setuju? Peduli amat, kami mayoritas di sini. Yang non muslim, jika tidak suka, boleh kok angkat kaki dari sini. Miris mendengarnya? Kami sudah berkali-kali memberi masukan soal itu, tapi dianggap angin lalu, bro. Jadi, maklum saja lah. Anjing menggonggong kafilah berlalu. 

Tak perlu kudetailkan lagi makna ungkapan itu bukan? Lalu, mengapa tidak ada aturan tentang hukuman cambuk bagi para koruptor pencuri uang rakyat? Bukannya mencuri apalagi merampok yang bukan hak miliknya sangat dilarang dalam Islam?  Mmm..soal itu, nanti dulu. Mana mungkin pemerintah dan lembaga dewan kami yang terhormat membuat aturan hukum begitu. Salah-salah cambuk makan tuan. Apa jadinya jika pemerintah kami yang mengusulkan Qanun itu ketahuan makan fee proyek. 

Apa jadinya jika anggota dewan kami ketahuan terima fee proyek dari kontraktor yang dititipkan ke dinas-dinas. Itu bisa menjerat diri sendiri, bro! Memang sih, pada 2012, setelah Aceh disebut-sebut bertengger di posisi kedua terkorup di Indonesia, gubernur kami pernah datang ke KPK di Jakarta. Tapi soal cambuk untuk koruptor, gubernur kami tak punya nyali. Buktinya, beliau setuju Qanun Jinayat yang tidak mengatur hukuman untuk koruptor itu segera disahkan. 

Sekedar refrensi, klik saja tautan berita Kompas ini: Korupsi di Aceh Mencengangkan Jadi, mempermainkan hukum Allah dong? Ah, jangan suudzon dulu, bro! Salah satu anggota dewan sudah mengatakan, qanun itu masih bisa direvisi lagi kok. Tapi, jangan kalian tanya kapan revisi dilakukan. Mau tahu seperti apa persisnya ucapan angggota dewan itu? Baca di tautan ini: Mengapa Koruptor tidak Dikenakan Hukum Syariat Islam di Aceh? Jadi, soal itu tak perlu lah kalian bertanya. 

Harap maklum saja. Jika pun kalian bertanya pada mereka, pasti jawabannya karena soal korupsi sudah diatur dalam KUHP, bukan ranah syariat. Lho, bukannya soal pemerkosaan yang diatur dalam qanun baru itu juga diatur dalam KUHP? Sudahlah kawan, tak usah kalian perpanjang lagi soal itu. Kalau terlalu kalian bertanya-tanya pun, salah-salah kalian dianggap tidak pro-syariat. Nah, kalau cap itu sudah distempel di jidat kalian, susah loh membersihkannya.    

Jangan pula kalian tanyakan kenapa sudah lebih 10 tahun hukuman itu diterapkan tetapi tidak ada pejabat atau tokoh masyarakat yang ketahuan berbuat mesum tidak dicambuk. Itu aib, bro, aib! Mana mungkin pemerintah kami membiarkan rekan sejawatnya dipermalukan di depan umum seperti mereka mempermalukan para penjudi kecil-kecilan itu. Lagi pula, mereka punya banyak duit untuk membayar denda. Lah, kalau penjudi itu darimana duitnya. Nah, karena itu, kalian juga harap maklum kalau suatu hari berjumpa dengan anggota dewan atau pemerintah kami di diskotik atau di tempat pijat plus-plus di Medan, atau Jakarta. Ada kesepakatan tidak tertulis dari kami, kalau mau berbuat nakal, jangan di Aceh. 

Toh, apalah artinya tiket pesawat pulang pergi ke Medan, masih ada uang aspirasi dan fee proyek yang bisa dipakai kok. Lagi pula, jarak tempuhnya juga tidak jauh, hanya 45 menit naik pesawat.   Sekali lagi, harap maklum ya, anggota dewan dan pemerintah kami juga manusia biasa yang terkadang bisa tergoda kenikmatan duniawi. Karena itu, yuk, datanglah ke Aceh. Mari kita nikmati wisata cambuk ini seperti mereka yang datang berduyun-duyun sambil membawa anak-anak. Kalau kalian punya anak, bawa saja. 

Bukannya itu dilarang dalam aturan main hukum cambuk? Ah, jangan khawatir, itu hanya aturan. Buktinya, pada 19 September lalu, banyak kok yang bawa anak-anak bahkan yang masih usia dua tahunan juga ada. Wali Kota kami ibu Illiza Saaduddin Djamal yang hadir saat itu juga tidak menegur petugas yang membiarkan anak-anak menonton eksekusi cambuk itu. Jadi, santai saja, kawan! Siapa tahu nanti kalian juga bisa bertemu dan berkenalan dengan ibu walikota kami yang cantik itu. 

Kalian khawatir suatu saat cambuk juga bisa mendarat di punggung kalian? Jangan takut, pejabat kami sudah mengumumkan di koran-koran bahwa Islam di Aceh adalah Islam moderat. Lalu, kenapa ada hukum cambuk, bahkan juga untuk non muslim? Bingung? Sama, saya juga! Ah, sudahlah. Kutunggu kalian di Aceh ya. Oh ya, jangan lupa bawa uang yang banyak, hitung-hitung bisa untuk bayar denda kalau kalian juga terancam hukum cambuk. 

Oh ya, hampir lupa, kalau setiba di bandara Iskandar Muda kalian tidak menemukan angkutan umum yang murah untuk ke kota, itu tak lain karena pemerintah kami mengira kalian orang-orang kaya semua, jadi bisa naik taksi dan tak perlu memfasilitasi kalian dengan angkutan umum yang lebih murah dan nyaman. Sebab, para pejabat kami yang biasa naik pesawat, tidak pernah naik angkutan umum. Tiba di bandara, mereka sudah ada yang jemput, jadi tak perlu angkutan umum. Salam cetar dariku. Selamat menonton wisata cambuk.
 
Copyright © 2013 Gado-Gado
Share on Blogger Template Free Download. Powered byBlogger